Meretas Jalan Dakwah Peradaban dari Spirit Gedung Merdeka

oleh Reporter

07 September 2026 | 08:22

Jajaran Tasykil dan Lembaga PP Pemuda PERSIS siap selenggarakan Muskernas-1 di Gedung Merdeka Bandung.

Oleh: Andri Nurkamal (Wasekum PP Pemuda PERSIS)


Peradaban lahir dari dinamika terbaik yang terakumulasi dalam kerangka yang kokoh. Dalam perspektif sosiologi Islam, peradaban adalah hasil dialektika antara wahyu sebagai sumber nilai dan realitas sosial sebagai medan amal. Ia ditempa oleh benturan pemikiran-pemikiran dinamis, diuji oleh perbedaan pandangan, dan teruji oleh tantangan zaman.


Di titik itulah terjadi pertemuan paling eksotis antara konsep teoritis dan kebutuhan faktual umat. Inilah yang disebut Ibnu Khaldun sebagai proses ‘umrān, yaitu membangun kehidupan kolektif yang berkeadaban.


Nilai tertinggi dari peradaban adalah mengantarkan setiap individu manusia untuk mengesakan Allah semata. Tauhid menjadi poros dan tujuan akhir dari seluruh gerak peradaban. Karena itu, seluruh aktivisme perjuangan, pemikiran, dan pengabdian sejatinya adalah jalan untuk mencapai kemurnian penghambaan tersebut.


Untuk mewujudkan peradaban yang utuh, misi dakwah harus menjawab tiga unsur utama yang saling terkait: kemanusiaan, lingkungan, dan moralitas. Ketiganya adalah pilar yang tak terpisahkan. Manusia sebagai subjek, lingkungan sebagai ruang hidup, dan moralitas sebagai kompas arah.


Menjaga keseimbangan ketiga pilar ini membutuhkan instrumen. Salah satunya adalah teknologi. Sejak awal kelahirannya, teknologi dimaksudkan untuk memenuhi hasrat manusia akan kemudahan, sekaligus menjaga harmoni dengan alam dan nilai. Dengan begitu stabilitas kehidupan di bumi dapat terjaga.


Karena itu, tidak boleh satu unsur mendominasi unsur lainnya. Tidak boleh ada yang dianggap lebih penting, apalagi tertukar perannya.



Ketika teknologi mendominasi moralitas, atau manusia mengeksploitasi lingkungan tanpa batas, maka yang lahir bukanlah peradaban, melainkan kerusakan. Sebab parsialitas bukanlah wujud dari nilai peradaban yang utuh.


Semangat membangun peradaban yang utuh ini sejatinya telah lama dihidupkan oleh Pemuda PERSIS. Dalam sejarah, semangat itu pernah diwujudkan secara nyata. Pada tahun 1965, tepat 10 tahun setelah Konferensi Asia Afrika di Kota Bandung yang menggaungkan Gerakan Non-Blok, umat Islam dunia kembali berkumpul.


Melalui Konferensi Islam Asia Afrika, semangat persatuan umat digelorakan. Penyelenggara lokalnya adalah Pimpinan Pusat Pemuda PERSIS, di bawah kepemimpinan Suraedi sebagai Ketua Umum dan Junus Anis sebagai Sekretaris Umum.


Dari peristiwa itu terlihat jelas watak Pemuda PERSIS sebagai gerakan pemikiran. Karenanya ia terbiasa berhadapan dengan kebiasaan umat yang telah mengkristal. Dalam bahasa sosiologi Islam, ini adalah fungsi al-amr bil ma‘rūf wan nahy ‘anil munkar sebagai mekanisme kontrol sosial.


Namun ia tidak pernah mundur. Justru di situlah wataknya diuji. Kapasitas intelektual untuk berpikir jernih dan keberanian untuk meluruskan arus umum adalah ciri khas yang melekat pada Pemuda PERSIS sejak awal.


Sebagai kelanjutan dari watak tersebut, sebagaimana para pendahulunya, Pemuda PERSIS hari ini harus berani tampil ke ruang publik yang fenomenal. Membawa fikih-fikih modern yang tajam, membumi, dan berani merombak tatanan masyarakat yang keliru.


Dalam kerangka sosiologi Islam, fikih bukan hanya hukum, tetapi juga rekayasa sosial. Ia berfungsi sebagai alat untuk melakukan taghyīr ijtimā‘i, yaitu perubahan sosial yang terarah. Bukan untuk gaduh, tetapi untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih besar, mewujudkan maqāshid syarī‘ah dalam kehidupan nyata.


Fakta sejarah itu menunjukkan bahwa Pemuda PERSIS tidak hanya membangun narasi peradaban, tetapi juga terjun dalam aktivisme terbuka. Bergerak lintas generasi dan lintas negara untuk menyatukan gerakan umat Islam.


Dari sanalah komprehensivitas ajaran Islam dihadirkan. Dari ruang paradigmatik menuju ranah praktis yang membumi. Lahirlah ide pengarah, kompas nilai, jalan pencapaian, dan karya nyata yang memengaruhi sosiologi masyarakat.


Siklus sejarah itu kini kembali berulang. Enam puluh satu tahun setelah momentum bersejarah Konferensi Islam Asia Afrika, Pimpinan Pusat kembali berkumpul di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika Nomor 65, Kota Bandung.


Gedung ini bukan sekadar bangunan. Ia adalah saksi bisu lahirnya tatanan dunia baru melalui Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Di ruang inilah bangsa-bangsa terjajah berani menyatakan kemerdekaan, persamaan, dan kerja sama sebagai peradaban baru pascakolonialisme.


Maka ketika Musyawarah Kerja Nasional I PP Pemuda PERSIS memilih Gedung Merdeka sebagai tempatnya, itu bukan kebetulan. Ini adalah simbol. Simbol bahwa Pemuda PERSIS sedang mengambil alih tongkat estafet peradaban. Dari semangat Bandung yang menyatukan bangsa-bangsa, menuju semangat Bandung baru yang menyatukan umat.


Dari deklarasi kemerdekaan politik, menuju deklarasi kemerdekaan pemikiran dan peradaban. Ada energi serius yang memanggil secara sadar untuk melanjutkan cita-cita yang tidak hanya bersifat lokal, tetapi mendunia.


Dalam menjawab panggilan itu, dengan kepemimpinan baru di era postmodernisme, visi besar Pemuda PERSIS kini mengambil jalan yang lebih terbuka dan elegan. Pikiran-pikiran transformatifnya diarahkan untuk menjadi kekuatan baru sebagai episentrum dakwah peradaban.


Misi strategis itu dijalankan melalui tiga hal. Pertama, transformasi tata kelola keorganisasian. Kedua, penumbuhan sumber daya kader yang unggul. Ketiga, konsistensi dalam mempersembahkan sumbangsih nyata bagi keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara.


Muara dari proses ini adalah terwujudnya Pemuda PERSIS yang berdaulat dalam sikap politik gerakan, mandiri dalam pengelolaan sumber daya finansial organisasi, dan berpengaruh dalam menghadirkan pencerahan di tengah-tengah umat.


Kejelian menyambungkan panggilan khittah sejarah dengan pemikiran kebaruan menjadi sinyal kebangkitan. Pemuda PERSIS kembali dipanggil untuk menjadi agen-agen peradaban, dan selanjutnya mengambil peran sebagai para pemimpin peradaban.


Medan perjuangannya tetap sama, meski corak dinamisnya menuntut penyesuaian pola. Setidaknya, rumusan konseptual yang digagas Pimpinan Pusat Pemuda PERSIS hari ini melalui Musyawarah Kerja Nasional I di Gedung Merdeka menjadi penanda kesiapan sayap otonom muda Persatuan Islam ini untuk kembali tampil sebagai pemimpin peradaban.


Untuk itu, lompatan pemikiran dan langkah pergerakan yang tidak biasa perlu dilakukan secara progresif dan terukur. Keberanian dan kemampuan itulah yang kelak menjadi barometer keberhasilan: merelevansikan spirit sejarah ke dalam aktivisme nyata di era sekarang.


[]

BACA JUGA:

Ketum PP Pemuda PERSIS: Tradisi Keilmuan Pemuda PERSIS Tasikmalaya Layak Jadi Teladan Nasional

Reporter: Reporter Editor: Fia Afifah Rahmah