Al-Qur’an mengandung banyak ayat yang membahas proses penciptaan manusia dan menggambarkan keadaan jiwanya yang berbeda-beda, menjelaskan sebab-sebab penyelewengan dan menyebabkan jatuhnya pada kehinaan. Juga menjelaskan sebab-sebab kemuliaannya dan ketinggian derajatnya. Ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an tentang jiwa merupakan milestone (peristiwa penting) yang bisa menjadi petunjuk bagi manusia dalam memahami diri (Ma’arifatu Al-nafs) dan sifat-sifat mereka serta mengarahkannya ke jalan yang benar dalam mendidik dan mengajarkannya.
Sejatinya, Pendidikan Islam tidak hanya terfokus pada hal-hal yang bersifat dunia, tetapi yang utama dan terutama dipusatkan pada hal-hal terkait kehidupan setelah mati, yang jiwa pada waktu itu dipinta pertanggungjawabannya.Pendidikan karakter islami merupakan titik pokok buah dari ma’rifatu al-Nafs. Pendidikan mendorong manusia untuk dapat mengembangkan potensi kejiwaannya sesuai dengan tuntutan Allah SWT. Pendidikan tidak hanya bersentuhan dengan kognitif, ia diorientasikan pula untuk melejitkan potensi batiniyah yang membuat manusia menjadi tenang, kecerdasan emosional dan spiritual menjadi pokok utama dalam Pendidikan Islam.
Hakikat Jiwa Manusia
Diskursus tentang jiwa manusia sejak zaman sebelum masehi sudah menjadi topik pembahasan para filsuf. Saat itu, para filsuf sudah membicarakan aspek-aspek kejiwaan manusia dan mereka mencari dalil, pengertian, serta perbagai aksioma umum, yang berlaku pada manusia. Para ahli ilmu filsafat kuno, seperti plato (429-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM), telah memikirkan hakikat jiwa dan gejala-gejalanya. Uraian oleh para filsuf abad pertengahan umumnya berkisar seputar ketubuhan dan kejiwaan. Socrates misalnya pada abad ke-5 mengatakan bahwa sesungguhnya jiwa adalah intisari roh, dan sesungguhnya jiwa manusia adalah jiwa yang kedudukannya tertinggi. Sedangkan Aristoteles pada abad ke-4 mengatakan bahwa jiwa adalah esensi manusia, pemikiran, dan keistimewaannya. Dan juga Plato mengatakan bahwa jiwa berada diantara dua dunia yakni alam luhur dan alam bawah, yang mana di dalam alam luhur tersebut terdiri dari kebaikan dan keutamaan, sedangkan di alam bawah terdiri dari syahwat dan kejelekan dan juga Plato mengatakan bahwa Sesungguhnya hikmah adalah jiwa tertinggi yang berakal. Demikianlah perkataan filsuf yunani seputar jiwa dan ruh.
Banyak dari filsuf yunani yang beranggapan bahwa itu jiwa itu bukan fisik dan juga bukan kefanaan, tidak berada di suatu tempat, tidak memiliki ukuran panjang lebar, kedalaman, warna, bagian, tidak berada di alam ini atau di luarnya, dan juga tidak bisa diserupakan dan dibedakan dengan apapun. Para filosof yunani termasuk aristoteles tampaknya memahami jiwa sebagai sesuatu yang sulit digambarkan secara materil. Sebagai sesuatu yang membutuhkan ruang dan tempat, ia bersifat gradual dan tercecer kemana mana yang tidak punya ukuran sama sekali. Tetapi ia ada pada setiap makhluk yang memiliki roh dan memiliki fungsi dalam gerak makhluk, karena setiap makhluk pasti memiliki fisik dan menempati ruang dan waktu walaupun berbeda-beda ketampakannya. (Faqihul Muqoddam, 2022).(Muslimin, 2017).
Selanjutnya pandangan-pandangan mereka dikutip oleh para muslim di antaranya Ibn Sina yang memandang bahwa Jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir di dunia ini. Walaupun jiwa tidak mempunyai fungsi fisik. Panca indera yang lima dan daya-daya batin dari jiwa binatanglah, yang menolong jiwa manusia untuk memperoleh konsep-konsep dan ide-ide dari alam sekelilingnya. (Hanafi, 1982). Abad ke-17, pengertian jiwa mengalami perkembangan lagi. Rene Descartes seorang filsuf Perancis (1596-1650) mencetuskan definisi bahwa psikologi adalah ilmu tentang kesadaran.
Descartes mengatakan bahwa jiwa berhubungan dengan roh-roh penting dan melalui hubungan ini terjadi interaksi antara jiwa dan tubuh. Jiwa tidak dapat mempengaruhi roh-roh tersebut, namun dapat mengubah arah gerak roh-roh penting tersebut. Bagi Aristoteles yang ada dalam manusia bukanlah tiga jiwa namun hanyalah satu yaitu jiwa rasional yang dimiliki manusia. Filsuf dari Inggris George Berkeley mendefinisikan jiwa sebagai persepsi. Jiwa merupakan daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan-perbuatan pribadi personal behavior dari hewan tingkat tinggi dan manusia. (Asrori, 2020)
Berbeda dengan para filosof, Kaum Sufi menganggap jiwa atau nafs lebih mengarah kepada tindakan nafsu. Sedangkan filosof muslim menganggap jiwa adalah ruh yang berupa zat atau subtansi. Para sufi adalah psikolog dari segi bahwa mereka menggunakan metode introspeksi dan perenungan diri semendalam mungkin dalam menjelajahi arena rasa. Sedangkan filosof lebih menggunakan metode yang mengedepankan akal dan logika.
Ulama sufi lebih mengarahkan bahwa jiwa merupakan kata lain dari hawa nafsu, sendangkan filsuf muslim beranggapan jiwa merupakan ruh yang berupa zat dan subtansi. (Wildan, 2017). Menurut al-Ghazali nafs itu mempunyai dua arti, arti nafs yang pertama adalah nafsu-nafsu rendah yang kaitannya dengan raga dan kejiwaan, seperti dorongan agresif (al-ghadlab), dan dorongan erotik (al-syahwat), yang keduanya dimiliki oleh hewan dan manusia. Adapun nafs yang kedua adalah nafs muthmainah yang lembut, halus, suci dan tenang yang diundang oleh Tuhan sendiri dengan lembutnya untuk masuk ke dalam surga-Nya. (Mohammad Zarkasi, 2019).
Sejatinya permasalahan manusia merupakan suatu rahasia dari rahasia-rahasia Sang Maha Pencipta. Allah SWT sebagai pencipta jiwa manusia telah memberitahukan bagaimana hakikat jiwa, keadaan-keadaannya dalam sekitar 298 ayat Al-Quran yang mengandung makna beragam (musytarak). Bagaimana Al-Qur’an menggambarkan secara utuh tentang nafs (jiwa) manusia, dan bagaimana kaitannya dengan Pendidikan yang notabene tidak terlepas dengan jiwa manusia?
Urgensi Ma’rifat al-Nafs
Manusia memiliki struktur kepribadian terdiri atas jasmani, rohani, dan nafsani. Nafsani sendiri mempunya struktur yang terbagi atas tiga macam, yaitu kalbu, akal, dan hawa nafsu. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali dalam kitabnya Kimiya’us Sa’adah mengatakan: Ketahuilah, tak ada yang lebih dekat kepadamu kecuali dirimu sendiri. Jika kau tidak mengetahui dirimu sendiri, bagaimana bisa mengetahui yang lain.
Menurut al-Ghazali mengenal diri atau ma’rifatun nafs merupakan kunci untuk mengenal Allah. Ia mengutip sebuah hadits yang dinisbahkan kepada Rasul yaitu:
"مَنْ عَرَفَ نفسه فقد عرف ربّه”
Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.
Untuk menguatkan kutipan di atas, al-Ghazali mengutip surah Fussilat ayat 53 :
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar.
Sejatinya ungkapan di atas bukan ungkapan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, dalam kitab-kitab hadits mu’tabarah tidak ditemukan ungkapan tersebut. Penulis menemukan ungkapan tersebut dalam kitab Al Hawy karya Imam al-Suyuthy 2/412, Kitab Silsilah Dhoifah, no. 66 juz 1 hal. 96, Al Fatawa al-Haditsah, hal. 289.
Dari mana sumber ungkapan tersebut?, ditemukan dalam kitab Al-Showa’iq Al-Muharriqah ‘ala Ahli al-Rofdhi wa al-dholal wa al-zandaqah jilid 2 hal. 379 bahwa ungkapan tersebut adalah ungkapan Yahya bin Muaz al Razi[1] (Syaihul Islam, 1997).
Penulis menemukan ungkapan-ungkapan yang serupa dalam kitab Rasail ‘an al nursia juz 9 hal. 36 (’Akyawy, n.d.) sebagai berikut :
"مَنْ عَرَفَ نفسه فقد عرف ربّه، وأعرفكم بنفسهِ أعرفكم بربّه" وفي كلام "أفلاطون" : "مَنْ عرف ذاته تألَّهَ" وفي كلام "أرسطوطاليس": " معرفة النفس معينة في كل حقٍّ معونةً كثيرةً" .
"Siapa yang mengenal dirinya sendiri, pasti ia akan mengenal Tuhannya, dan Orang yang paling mengenal pada dirinya, pasti ia paling mengenal kepada Tuhannya." Dan dalam kata-kata "Plato": "Dia yang mengenal dirinya sendiri, ia akan bertuhan," dan dalam kata-kata "Aristoteles" : “Mengenal jiwa adalah penolong yang pasti dalam setiap hak.”
Untuk mengenal diri al-Ghazali mengarahkan dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: Siapa aku dan dari mana aku datang? Ke mana aku akan pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, dan di manakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan? Ketahuilah, ada tiga sifat yang bersemayam dalam dirimu: hewan, setan, dan malaikat. Harus kautemukan, mana di antarra ketiganya yang aksidental dan mana yang esensial. Tanpa menyingkap rahasia itu, kau tak akan temukan kebahagiaan sejati. (al-Ghazali, n.d.).
Mengenal diri begitu penting karena jika seseorang mengetahui dirinya dengan banyak kesalahan dan kekurangannya dan kebutuhannya akan kesempurnaan, ini adalah alasan baginya untuk memberbaiki kualitas amaliyah dan pandangannya sehingga ia menemuai Rabnya dalam keadaan mulia. Imam Al Baqir dalam wasiyatnya kepada Jabir Al Ju’fy mengatakan :
لا معرفة كمعرفتك بنفسك
“Tidak ada pengetahuan seperti pengetahuanmu terhadap dirimu”
Walaupun ungkapan-ungkapan tersebut dalam pandangan ulama Ahli Hadits tidak mendasar dari sisi sanad tetapi dapat difahami bahwa memahami jiwa manusia adalah bagian dari pemahaman manusia terhadap diri sehingga ia meyakini bahwa dirinya tidaklah jadi dengan sendirinya, tetapi mesti ada yang menciptakan. Dari sana dengan penelusuran hidupnya sebagaimana kisah Abul Anbiya Ibrahim yang akhirnya dapat menemukan Tuhannya dan mematuhi apa yang Dia perintahkan dalam Kitab-Nya untuk membimbing manusia ke jalan yang lurus dan mengikuti jalan ketakwaan.
Malik bin Dinar mengatakan: Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berkata kepada dirinya : “Bukanlah kamu pemilik (dosa) ini, bukankah kamu pemilik (dosa) ini, kemudian ia mencela dan membungkamnya, kemudian ia menjadikan kitab Allah sebagai pemimpinnya.” (Faryah, 1985). []
[1] Yahya bin Muaz al Razi, Abu Zakaria As Shufy Wafat tahun 251 M/ 260 H, dikatakan العارف المشهور، صاحب المواعظ
BACA JUGA:Menguak Rahasia Sukses Pendidikan di Cina