Oleh: Andri Nurkamal Wasekum PP Pemuda PERSIS
Mengamati dinamika geologis dan iklim belakangan ini—mulai dari banjir bandang di perbatasan Nepal dan China, gempa di NTT, hingga erupsi eksplosif Gunung Anak Krakatau—kita dihadapkan pada realitas alam yang luar biasa bertenaga.
Sering kali, rentetan kejadian ini ditafsirkan seolah-olah Bumi memiliki kehendaknya sendiri untuk marah, menghukum, atau secara sadar memulihkan dirinya. Namun, jika direfleksikan lebih jernih secara keilmuan, fenomena-fenomena ini adalah dinamika fisik planet yang netral dan berjalan sesuai sunnatullah (hukum alam).
Pertanyaannya, mengapa dampaknya kini terasa semakin destruktif bagi kita?
Mari kita lihat fenomena pencairan gletser yang memicu banjir bandang di dataran tinggi Tibet. Fenomena ini bukanlah taktik Bumi yang secara sengaja mencairkan es untuk mendinginkan suhu yang memanas.
Sebaliknya, pencairan masif ini adalah konsekuensi termodinamika murni—dampak langsung dari pemanasan global akibat akumulasi gas rumah kaca yang diproduksi oleh aktivitas manusia.
Ketika suhu global dibiarkan terus naik, es di atap dunia mencair, dan volume air berlimpah itu meluap membawa sedimen serta bebatuan menuruni lereng. Dinamika hidrologis yang bermula dari perubahan komposisi atmosfer ini akhirnya berbenturan dengan peradaban, menyapu infrastruktur yang kita bangun di jalurnya.
Begitu pula dengan gempa bumi di NTT. Gempa tektonik terjadi bukan karena Bumi ingin "meratakan" permukaannya, melainkan murni akibat pergerakan lempeng bumi yang terus bergesekan. Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia terus menumpuk tegangan (stres tektonik) di zona sesar selama bertahun-tahun.
Ketika elastisitas batuan tidak lagi sanggup menahan tegangan tersebut, energi raksasa dilepaskan seketika dalam bentuk gempa. Ini adalah mekanika dasar planet kita.
Namun, getaran alami ini berubah menjadi tragedi mematikan ketika aktivitas manusia menggunduli lereng-lereng bukit, menghilangkan akar penyangga tanah yang kritis, sehingga memicu longsoran masif saat bumi berguncang.
Rangkaian pergerakan tektonik ini berlanjut pada aktivitas vulkanisme, seperti erupsi Gunung Anak Krakatau. Lempeng basah yang menunjam akhirnya meleleh di kedalaman, menghasilkan magma dengan tekanan gas tinggi yang pada titik tertentu harus dilepaskan melalui erupsi eksplosif.
Letusan ini memang memuntahkan abu vulkanik kaya mineral yang pada akhirnya membuat tanah menjadi sangat subur, serta melepaskan partikel yang bisa memantulkan radiasi matahari. Namun, ini adalah murni reaksi kimia dan fisika alamiah.
Gunung berapi meletus sekadar karena hukum termodinamika mengharuskannya melepaskan tekanan, bukan karena sebuah intervensi sadar dari planet ini untuk memulihkan kerusakan.
Rangkaian fenomena ini membawa kita pada sebuah refleksi filosofis yang tajam. Selama ini, kampanye pelestarian lingkungan sering membanggakan slogan "Selamatkan Bumi". Slogan ini, tanpa disadari, membiakkan keangkuhan—seolah Bumi adalah entitas rapuh yang bergantung pada pertolongan manusia.
Kenyataannya, Bumi sama sekali tidak membutuhkan umat manusia. Selama miliaran tahun, Bumi telah bertahan melewati zaman es ekstrem, tabrakan meteorit, hingga pergeseran benua. Bumi akan selalu tetap menjadi Bumi, entah ia dipenuhi es, magma, ataupun hutan belantara.
Sebaliknya, manusialah yang sangat rentan. Kita amat bergantung pada kondisi Bumi yang sangat spesifik dan sempit: suhu yang stabil, air yang bersih, udara yang sehat, dan siklus musim yang dapat diprediksi untuk mempertahankan kehidupan agrikultur dan peradaban kita.
Dalam perspektif Islam, kesadaran akan kerentanan ini sangat selaras dengan kedudukan kita sebagai khalifah fil ard—pengelola dan pemakmur di muka bumi.
Rentetan bencana yang diperparah oleh krisis ekologi ini adalah manifestasi nyata dari peringatan Allah dalam Al-Qur'an (QS. Ar-Rum: 41), bahwa fasad (kerusakan) di darat dan di laut benar-benar terjadi akibat ulah tangan manusia, agar kita merasakan sebagian dari akibat perbuatan kita dan kembali ke jalan yang benar.
Oleh karena itu, menjaga kelestarian alam, tidak mengeksploitasi hutan secara serampangan, dan menekan jejak karbon bukanlah sekadar jargon pelestarian lingkungan. Itu adalah bentuk tanggung jawab moral dan spiritual kita untuk merawat mizan (keseimbangan) ciptaan-Nya.
Kita merawat lingkungan bukan demi menyelamatkan planet yang kebal ini, melainkan untuk memastikan "rumah" yang dititipkan Allah ini tetap aman dan layak huni bagi kelangsungan peradaban kita sendiri.
[]
BACA JUGA:Bumi Titipan Ilahi, Kabid Dakwah PERSIS: Merusak Lingkungan Menyimpang dari Tujuan Ibadah