Wamendagri RI Bima Arya Dorong Pemuda PERSIS Jadi Generasi Negarawan dan Penggerak Peradaban

oleh M Aditya Ramadan

12 September 2026 | 19:28

Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya Sugiarto.

Bandung, persis.or.id — Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya Sugiarto, mendorong generasi muda untuk mengambil peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan bangsa dan perubahan zaman.


Hal tersebut disampaikan dalam Musyawarah Kerja Nasional (Muskernas) I Pimpinan Pusat Pemuda Persatuan Islam (PP Pemuda PERSIS).


Dalam paparannya bertajuk “Paradigma Kebangsaan Generasi Muda Indonesia”, Bima Arya menyoroti posisi strategis generasi muda di tengah bonus demografi yang sedang dihadapi Indonesia.


Menurutnya, bonus demografi merupakan potensi besar bagi Indonesia. Jika dikelola dengan baik, generasi milenial dan Gen Z hari ini akan menjadi bagian penting dari kepemimpinan Indonesia dalam dua dekade mendatang.


“Negara maju adalah negara yang bisa memanfaatkan bonus demografi yang penuh potensial. Berisi generasi milenial dan generasi Z. Jika bonus demografi ini bisa dikelola, Indonesia 20 tahun ke depan akan dipimpin oleh pemimpin-pemimpin muda hari ini,” tutur Bima Arya.


Karena itu, Bima Arya menggarisbawahi bahwa generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual dan kompetensi. Keduanya perlu berjalan bersama karakter dan wisdom agar ilmu yang dimiliki dapat memberikan arah dan manfaat bagi kehidupan.


“Nasihat yang perlu dititipkan kepada generasi muda adalah karakter atau wisdom dan sains atau kompetensi,” ucapnya.


Bima Arya kemudian menekankan pentingnya keseimbangan antara science dan wisdom. Menurutnya, ilmu dan kompetensi merupakan modal penting dalam menghadapi perubahan zaman, tetapi keduanya perlu ditopang oleh adab dan keimanan.


“Ilmu bisa membawa kita kepada arogansi dan ambisius, obatnya adalah adab dan keimanan. Harapannya Pemuda PERSIS bisa menyeimbangkan keduanya,” ungkap Bima Arya.


Dalam konteks kehidupan kebangsaan, Bima Arya juga mengajak generasi muda untuk membangun karakter sebagai negarawan. Menurutnya, negarawan tidak hanya ditandai oleh kemampuan membaca persoalan, tetapi juga keberanian menghadirkan solusi dan membangun kolaborasi. “Poros negarawan itu adalah solusi dan kolaborasi,” tegasnya.


Pesan tersebut menjadi penting bagi generasi muda yang menghadapi persoalan bangsa yang semakin kompleks. Bima Arya menilai kemampuan berkolaborasi diperlukan agar berbagai potensi yang dimiliki generasi muda dapat diarahkan untuk menjawab persoalan bersama.


Dalam kesempatan tersebut, Bima Arya juga menggarisbawahi narasi yang disampaikan dalam sambutan Ketua Umum PP PERSIS dan Ketua Umum PP Pemuda PERSIS mengenai “transformasi gerakan” dan “episentrum dakwah peradaban.”


Menurutnya, narasi tersebut memiliki resonansi dengan semangat historis yang pernah lahir dari tempat berlangsungnya Muskernas.


“Transformasi gerakan dan episentrum dakwah peradaban ini mengingatkan kita bahwa di tempat ini, dahulu Soekarno juga menyuarakan gagasan besar kepada para pemimpin dunia dari Asia dan Afrika,” kata Bima Arya.


Gedung Merdeka Bandung memang memiliki catatan penting dalam sejarah Indonesia dan dunia. Pada 18 April 1955, Presiden Soekarno membuka Konferensi Asia-Afrika yang dihadiri 29 negara Asia dan Afrika.


Dalam pidato pembukaannya, Soekarno menyerukan lahirnya Asia dan Afrika baru serta menegaskan pentingnya kemerdekaan, perdamaian, dan kerja sama antarbangsa.


Dalam konteks tersebut, Bima Arya mengajak generasi muda untuk membaca kembali semangat sejarah yang pernah lahir dari tempat tersebut dan menerjemahkannya ke dalam tantangan zaman hari ini.


“Kalau dahulu dari tempat ini lahir gagasan besar untuk bangsa-bangsa Asia dan Afrika, maka generasi muda hari ini juga harus mampu melahirkan gagasan dan gerakan yang menjawab tantangan zamannya,” ujarnya.


Semangat tersebut kemudian dihubungkan dengan posisi dakwah dalam pembangunan peradaban. Bima Arya menempatkan dakwah bukan hanya sebagai aktivitas penyampaian pesan keagamaan, tetapi sebagai kekuatan yang dapat menghadirkan nilai dan kebaikan dalam kehidupan bersama. “Dakwah adalah pondasi peradaban,” tegas Bima Arya.


Perspektif tersebut sejalan dengan tema Muskernas I PP Pemuda PERSIS, “Transformasi Gerakan Membangun Episentrum Dakwah Peradaban.” Tema tersebut menjadi momentum bagi Pemuda PERSIS untuk memperkuat kapasitas gerakan, memperluas kolaborasi, serta menghadirkan dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.


Melalui semangat tersebut, Pemuda PERSIS diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi dan wawasan luas, tetapi juga memiliki karakter, adab, keimanan, kepedulian kebangsaan, serta keberanian untuk mengambil peran dalam kehidupan bersama.


Dengan demikian, transformasi gerakan tidak berhenti pada perubahan internal organisasi, tetapi diarahkan untuk memperkuat kontribusi Pemuda PERSIS dalam kehidupan kebangsaan dan menghadirkan episentrum dakwah yang memberi manfaat bagi pembangunan peradaban.


[]


Kontributor: Nazla Hayfa S (Perak 45)

BACA JUGA:

Ustaz Jeje Dorong Pemuda PERSIS Bangun Tujuh Episentrum Dakwah Peradaban