32 Asatidz PERSIS Ikuti Daurah Tadarrus Al-Qur’an di Makkah al Mukarramah

oleh Reporter

•

05 Oktober 2026 | 13:45

32 asatidz Pesantren PERSIS dari berbagai daerah di Indonesia saat mengikuti rangkaian Daurah Metode Tadarrus Al-Qur’an di Makkah Al-Mukarramah.

Makkah, persis.or.id — Sebanyak 32 asatidz Pesantren Persatuan Islam (PERSIS) dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti rangkaian Daurah Metode Tadarrus Al-Qur’an di Makkah Al-Mukarramah, yang dirangkaikan dengan ibadah Umrah.


Rangkaian perjalanan berlangsung dari 26 September hingga 7 Oktober 2026, sedangkan kegiatan pembelajaran dilaksanakan selama enam hari, yakni pada Senin, 28 September hingga Sabtu, 3 Oktober 2026.


Ini merupakan sinergi antara tiga lembaga. Muassasah An-Naba Al-Azhim Makkah (Syeikh Abul Ghaits) berperan sebagai penyelenggara dan naungan, Markaz Tadarrus Indonesia sebagai pengelola dan pelaksana program (Ustaz Amien Husein), sedangkan Pimpinan Pusat (PP) PERSIS (Ustadz Nanang Hendrayatna) sebagai mitra kerja sama.


Pembelajaran dengan Bahasa Arab


Salah satu kekhasan daurah adalah penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Hal tersebut diungkapkan oleh Iman Kodariansyah, Staf Bidang Dakwah PP PERSIS


Menurutnya, peserta tidak hanya menerima materi dari para syaikh, tetapi juga dilatih untuk memahami dan menyampaikan kembali materi melalui praktik micro teaching.


Selama pembelajaran, peserta mendapatkan sejumlah materi utama, yaitu ‘Wasiat untuk Pengajaran Al-Qur’an’ oleh Syaikh Halil Inayatullah. Kemudian adaمَفَاتِيحُ التَّدَبُّرِ atau ‘Kunci-Kunci Tadabbur’ oleh Muhammad bin Abdullah Ar-Rabi’ah.


Selanjutnya ada materi كَيْفَ تُقِيمُ مَجْلِسًا لِتَدَارُسِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ؟ atau ‘Bagaimana Menyelenggarakan Majelis Tadarrus Al-Qur’an Al-Karim?’ oleh leh Muhammad bin Ahmad Budur. Dilanjut dengan ‘Micro Teaching’ oleh Muhammad bin Ahmad Budur. Terakhir materi مَشْرُوعُ الْعُمْرِ atau ‘Misi Hidup / Tujuan Hidup’ oleh Masy’al bin Abdul Aziz Al-Falahi.


Gunakan Metode 5T


Salah satu pokok pembelajaran dalam daurah adalah metode 5T, yaitu Tamhied, Tilawah, Tafsir, Tadabbur, dan Tazkiyah.


“Metode ini mengarahkan pembelajaran Al-Qur’an dari tahap persiapan, membaca dan memahami ayat, menggali kandungan serta hikmah, hingga menjadikan pemahaman tersebut sebagai penguatan iman dan dorongan untuk beramal,” ujarnya.


Melalui kegiatan ini, para asatidz diharapkan memperoleh bekal keilmuan dan keterampilan yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran Al-Qur’an di pesantren dan lingkungan masing-masing.


“Dari Makkah untuk pesantren: ilmu dipelajari, ayat ditadabburi, metode dipraktikkan, dan nilai Al-Qur’an dihidupkan dalam pengajaran dan amal,” tandasnya.


 []


Kontributor: Iman Kodariansyah (Peserta Daurah Tadarrus)

BACA JUGA:

Indonesia Segera Punya Kampung Haji di Makkah, PP PERSIS Apresiasi Langkah Brilian Pemerintah

Reporter: Reporter Editor: Fia Afifah Rahmah