Konsep Pengembangan Kesadaran Diri (Ma’rifatu Al-Nafs) dalam Pendidikan Islam (IV- Tamat)

oleh Deni Solehudin

22 September 2026 | 19:35

Penulis: Dr. H. Deni Solehudin, M.S.I

Implikasi Ma’rifat al-Nafs Dalam Pendidikan Islam

Allah maha mengetahui akan keadaan makhluknya. Apa yang harus dilakukan oleh manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna. Semua taklif adalah proses tarbiyah. Dari sini kita dapat melihat dua hakikat kurikulum yaitu hakikat kurikulum berbasis tujuan dan hakikat kurikulum berbasis Pendidikan Karakter. Dari keduanya setidaknya terkait Psikologi Pendidikan (ilmu jiwa), konsep filsafat Pendidikan Islam, materi Pendidikan Islam, pendidik, dan metode Pendidikan Islam.


Psikologi Pendidikan dan jiwa merupakan dua hal yang selalu berhubungan. Hubungan Psikologi Pendidikan dan ma’rifat al-nafs mempunyai timbal balik. Psikologi juga disitilahkan ilmu al nafs tidak akan terlepas dari ma’rifat al-nafs, yang dalam hal ini berarti mengetahui dan memahami keadaan-keadaan jiwa manusia, dan Pendidikan tidak berjalan tanpa adanya jiwa (nafs) sebagai objek Pendidikan. Jiwa apabila ditinjau dari sisi dalam manusia mengarah pada Pendidikan yang mengedepankan kecerdasan emosi (EQ).


Berbicara masalah jiwa, dalam perkembangannya akan melahirkan filsafat Pendidikan Islam, sebagaimana diungkapkan oleh Humaini bahwa implikasi dalam pendidikan Islam akan diorientasikan pada pembentukan filsafat pendidikan yang lebih Humanistic-Teocentric. Teocentric memandang bahwa semua yang ada diciptakan oleh Allah, berjalan menurut hukum-Nya. Filsafat ini memandang bahwa manusiadilahirkan membawa potensi-potensi-Nya dan perkembangan selanjutnya tergantung pada lingkungan dan pendidikan yang diperolehnya. Sedangkan pendidikan berparadigma Humanistik adalah pendidikan yang memandang manusia sebagai manusia, yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan potensi-potensi tertentu yang dikembangkan secara maksimal dan optimal.


Dalam pembicaraan filsafat pendidikan, akan mengikuti aliran konvergensi yang memadukan antara potensi bawaan dan lingkungan. Uraian mengenai potensi manusia dalam pandangan Islam berpusat pada tiga hal pokok, yaitu asal kejadian manusia, tugas hidup manusia, dan tujuan hidup manusia (Humaini, 2008).


Pendidikan Islam adalah Pendidikan yang sadar dan bertujuan, dan Allah telah meletakkan asas-asasnya bagi seluruh manusia di dalam syari’at ini. Tujuan asasi dari adanya manusia di dalam alam ini adalah beribadah dan tunduk kepada Allah, serta menjadi khalifah di muka bumi untuk memakmurkannya dengan melaksanakan syariat dan menaati Allah. Allah SWT. telah menjelaskannya tujuan ini di dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Ad Dzariyat: 56)


Dalam ayat ini Allah menyatakan Aku tidak menciptakan jin dan manusia untuk kebaikan-Ku sendiri. Aku tidak menciptakan mereka melainkan agar tujuan hidup mereka adalah beribadah kepada-Ku karena ibadah itu pasti bermanfaat bagi mereka. Abdurrahman an-Nahlawi memberikan komentar tentang ayat ini “Jika ini tujuan hidup manusia, maka pendidikannya pun harus mempunyai tujuan yang sama, yaitu: mengembangkan pikiran manusia dan mengatur tingkah laku dan perasaannya berdasarkan Islam. Dengan demikian, tujuan akhir Pendidikan Islam adalah merealisasikan ubudiyah kepada Allah di dalam kehidupan manusia, baik individu maupun masyarakat. (an-Nahlawi, 1989).


Ma’rifatus nafs yang diartikan sebagai kesadaran diri terkait juga dengan pendidikan karakter. Dalam proses kesadaran diri menuju pengembangan karakter sangat diperlukan usaha terus menerus yang dilakukan dengan berbagai cara untuk membuat jiwa mencapai maqam tertinggi, yaitu An Nafsul Mutmainnah, jiwa yang diridhai.


Jiwa yang tenang akan kembali pada Tuhannya dengan keadaan ridha dan diridhai oleh Allâh. Penyifatan dengan radhiyah mempunyai makna bahwa ketenangan jiwa menghadap Tuhan mengharuskan keridhaan jiwa terhadap apa yang telah ditaqdirkan, ditentukan, diatur oleh Allâh, tanpa membencinya dan berbuat maksiat. Jika seorang hamba ridha pada-ketentuan-Allâh, maka Allâh pun ridha padanya. Maka, seluruh proses ‘ibâdah seorang hamba harus dilandasi oleh keridhaan jiwanya untuk melaksanakan aturan Allâh, sehingga Allâh memberikan keridhaan padanya (mardhiyyah).


Konsepsi keridhaan Allâh dalam ungkapan ayat di atas menyiratkan adanya hubungan interdependensi, keridhaan Allâh akan tergantung pada keridhaan hamba- Nya dalam menerima ketentuan, taqdir, dan aturan-Nya dengan menjalankan ‘ibâdah tanpa melakukan penyelewengan kepada-Nya. Maka di akhir hayat, ketika ajal menjemput, jiwa manusia yang ridha akan tenang ketika ia menghadap pada Rabb juga diridhai oleh-Nya (mardhiyyah). Kesenangan pun akan muncul, ketika Rabb mengatakan kepada jiwa yang tenang itu: ”Masuklah ke dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke surga-Ku”.


Perkembangan jiwa berorientasi dinamis. Jiwa manusia yang dikembangkan oleh pendidikan tidak sebatas hanya untuk sisi kehidupan dunia yang empirik. Islam mengajarkan dunia eskatologis sebagai salah satu wahana pertanggungjawaban perilaku manusia. Kehidupan dengan jiwa yang damai dan tenteram memberi dukungan positif pada pembentukan kesadaran religiusitas manusia terhadap Tuhan. Pendidikan hendaknya mengarah pada pengembangan jiwa manusia yang sehat dan tidak mengalami krisis. Dalam konteks ini, pendidikan dalam perspektif Islam mengarahkan pada upaya penyadaran manusia yang memiliki asal jiwa yang religius, berasal dari dorongan ruh Tuhan Yang Maha Baik, dan akan kembali pada- Nya dalam keadaan suci. (Rudi & Suryadi, 2016).


Syekh Ismail Haqi dalam tafsir Ruhul bayan menyatakan :

واعلم ان الكمال الآدمي فى العلوم الحقيقية وهى اربعة. الاول معرفة النفس وما يتعلق بها. والثاني معرفة الله تعالى وما يتعلق به. والثالث معرفة الدنيا وما يتعلق بها. والرابع معرفة الآخرة وما يتعلق بها

dan ketahuilah kesempurnaan adami (manusia) pada ilmu hakikat ada empat yaitu pertama, ma’rifat al-nafs dan apa-apa yang berhubungan dengannya, kedua, Ma’rifat Allah dan apa-apa yang terkait dengannya, ketiga, ma’tifat al-dunya dan apa yang terkait dengannya, dan keempat, ma’rifat akhirat dan yang terkait dengannya.


Imam Al-Ajri mengungkapkannya seperti dalam bukunya (Adab al-Nafs), di mana dia berkata: "Dua keadaan harus diketahui: Yang pertama: pengetahuan tentang pengetahuan diri. Adapun yang kedua: pengetahuan tentang bagaimana mengatur jiwa, bagaimana bersiyasah untuknya, dan bagaimana menjaganya dan bagaimana mendisiplinkannya. Seorang muslim yang berakal mesti mencari ilmunya sehingga dia mengenal dirinya sendiri dan tahu bagaimana mendisiplinkannya. (Al-Asmari, n.d.).


Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas bahwa kurikulum harus berisi konsep kesadaran diri (ma’rifat al-nafs) dimulai dari sisi kognitif. Dikenalkan kepada peserta didik tentang diri, asal usul penciptaannya, karakteristik dan sebagainya. Baharudin menyatakan kognitif yang bersumber dari dimensi al-ruh menghasilkan pengenalan dan kesadaran spiritual. Kognitif nafsiyah pengenalan yang diperoleh melalui daya dimensi-dimensi yang ada pada aspek nafsiyah, yaitu kognitif qalbiyah, kognitif aqliyah, dan kognitif naluriah. Dari fungsi afektif, fungsi afektif adalah fungsi psikis untuk menentukan sikap atas dasar pertimbangan yang bersifat penilaian terhadap sesuatu. Sebagaimana aspek kognitif, fungsi afektif nafsiyah juga terbagi tiga yaitu afektif qalbiyah, afektif aqliyah, dan afektif naluriah. Dan yang ketiga adalah fungsi amalan, yaitu tampilan daya-daya psikis dalam bentuk tingkah laku. (Baharuddin, 2004).


Ditinjau dari operasional materi kurikulum, setelah ma’rifat al-nafs, maka peserta didik perlu mengetahui tentang Tuhan (ma’rifatullah, ma’rifatul kholik). Kesempurnaan ilmu terletak pada pengetahuan tentang lima hal: yang pertama adalah pengetahuan tentang Sang Pencipta, Yang Maha Suci dan Yang Maha Agung, yang berisi pengetahuan tentang Keesaan Ketuhanan, yang kedua adalah pengetahuan tentang Ketuhanan. Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, yaitu pengetahuan tentang Keesaan Nama-nama dan Sifat-sifatnya, dan yang ketiga adalah pengetahuan tentang jalan menuju Allah, yaitu pengetahuan tentang keesaan penghambaan, dan yang keempat adalah pengetahuan tentang rintangan-rintangan dan penghancur-penghancurnya, yaitu Syirik dalam segala bentuk dan bagiannya, dan langkah-langkah dan tipu daya setan, dan yang kelima adalah pengetahuan tentang jiwa dan kesalahannya, kesabaran dalam mengobatinya dari penderitaannya, dan mencari pertolongan Allah. dalam melestarikannya pada pendekatan penghambaan dan tauhid.


Dengan ma’rifatun nafs, manusia sebagai khalifah di muka bumi akan terdorong untuk melakukan pengelolaan serta mendaya gunakan ciptaan Allah untuk kesejahteraan hidup bersama dengan yang lainnya. Dengan adanya pendidikan Islam diharapkan mampu menciptakan manusia yang sempurna, mampu mengamalkan ajaran Allah. Dalam hal ini meliputi akal, hati maupun keterampilan agar bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat guna meraih kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat.


Ma’rifatun nafs termasuk ke dalam ranah afektif, namun untuk mewujudkannya berkaitan dengan ranah kognitif dan psikomotorik. Pada ranah kognitif dimaksudkan ketika individu diharapkan memahami dan mengerti suatu konteks tentang dirinya dan tentang lingkungan sekitarnya. Ranah psikomotorik berkenaan dengan tindakan atau performansi atau kecenderungan bertindak individu, yang merupakan perwujudan bahwa manusia telah berma’rifatun nafs. (Fauzi et al., 2020).


Karena   pendidikan   menyangkut   manusiadalam mengembangkan segala potensi yang ada pada dirinya. Dalam konteks ini, Islam dipahami sebagai sebuahkerangka konsep yang menjadi landasan pendidikan karakter. Menurut Aan Hasanah dengan memahami konsepmanusia dan perilakunyadalam perspektif Islam, makamanusia terdiri dariunsur jasmani, ruhanidan nafsani yang menjadikan manusiasebagai mahluk yangsempurna dimuka bumi.Manusia memiliki kebebasan dalammemilih perilaku yangbaik atau yangburuk, yang benar atauyang salah, Olehkarena itu manusiadibekali oleh akaldan hati. Unsur-unsuryang ada padamanusia membutuhkan tumbuhkembangyang sehat supaya bisamenjalankan fungsi manusiasebagai khalifatul fil ardi dimana dapat menjalankan tugas-tugaskemanusiaan dan peradabannya.


Proses tumbuh kembang manusia akan dapat dicapai secara optimal melalui Pendidikan karakter yang dapat mengembangkan segala unsur dan potensi yang ada pada dirinya. Ada  beberapakonsep  dalam  Pendidikan Islam  yangmerupakan pendidikan yang mengembangkan karakter anak didik. Pendidikan akhlak adalah pendidikan yang dimaksudkan sebagai bentuk pendidikan untuk mengembangkan sikap, watak dankarakter anak didik. (Hasanah, 2014)


BACA JUGA:

Konsep Pengembangan Kesadaran Diri (Ma’rifatu Al-Nafs) dalam Pendidikan Islam (III)

Reporter: Deni Solehudin Editor: Taufik Ginanjar