Refleksi Pemuda Persis sebagai Kader Dakwah

Refleksi Pemuda Persis sebagai Kader Dakwah

Dipublish pada 11 Januari 2019 Pukul 00:22 WIB

291 Hits

Pemuda Persis sebagai organisasi Dakwah, dalam perjalanan dakwahnya tentu banyak tantangan yang Kader Dakwah hadapi. Salah satu yang paling serius adalah situasi dan kondisi zaman yang kini tengah berada pada era milenial. Era di mana informasi dapat disajikan jauh lebih cepat dari makanan cepat saji. Era di mana setiap orang dapat mencari tahu tentang apa saja hanya dengan mengetik beberapa kata di mesin pencari. Era di mana kehidupan di dunia maya mulai menggerus kehidupan di dunia nyata.

Era Milenial ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kader Dakwah di mana suatu tugas dakwah tidak lagi terbatas pada penyampaian-penyampaian formal di mimbar-mimbar ceramah ataupun rubrik-rubrik dakwah di setiap majalah. Dakwah di era ini melebar sedemikian luasnya. Baik dari sisi objeknya, maupun sisi subjeknya, yaitu para pelaku dakwah.

Di era ini, Dakwah dapat ada di mana saja. Selain di masjid-masjid dan majelis-majelis, Dakwah juga ada di ruang publik yang lebih luas dan juga di media sosial, Internet, dan ruang-ruang lain di dunia maya. Dengan kata lain, ada di mana-mana. Sehingga Dakwah dapat menyentuh siapa pun. Tidak lagi terfokus pada mereka yang ingin saja. Dakwah kini menjadi lebih membumi dan merakyat.

Pada era ini pula, siapapun dengan gadget di tangan dapat menjadi seorang da’i. Atau pendakwah. Tidak penting betul apakah bacaan Qur’an-nya baik atau buruk. Atau apakah kapasitas keilmuannya di bidang Keislaman cukup dan mumpuni. Asal dia mampu merangkai kata-kata dan punya sedikit kemampuan berbicara, dia sudah sah menjadi da’i, menjadi pelaku Dakwah, orang yang menyampaikan Dakwah.

Anomali yang begitu besar ini membuat profesi da’i itu sendiri menjadi absurd. Dalam dunia di mana batas-batas menjadi kabur, batas antara seseorang yang pandai menyampaikan dakwah, dengan orang yang memang menjalani profesi sebagai seorang da’i, atau Kader Dakwah, juga turut menjelma sesuatu yang samar-samar.

Namun kondisi tersebut tidak lantas menjadikan Kader Dakwah kehilangan siginifikansinya. Kader Dakwah hanya perlu merumuskan peran yang lebih efektif dengan pembeda yang unggul dari para pelaku Dakwah lainnya.

Selain itu mereka perlu membekali diri mereka dengan kecakapan-kecakapan khas era milenial. Agar tidak ketinggalan langkah dari generasi milenial lain yang juga ingin mengambil bagian dalam dakwah meski secara membabi buta. Seperti kecakapan dalam memanfaatkan Internet, memanfaatkan dan mengelola media sosial dan kecakapan jurnalistik. Kecakapan-kecakapan tersebut adalah kecakapan dasar yang akan akan sangat membantu Kader Dakwah dalam menyampaikan Dakwah di tengah arus informasi era milenial yang sangat deras.

Kader Dakwah juga dituntut untuk dapat menyampaikan Dakwah kapan pun dan di mana pun. Pada titik ini, seorang Kader Dakwah tidak bisa lagi hanya sebatas mahir berceramah. Namun juga mesti mahir berdialog, berdiskusi, dan bahkan juga berdebat. Memiliki kemahiran literasi sehingga dapat menyebarkan dakwah dengan tulisan yang pada era ini tidak hanya terbatas pada buku, koran, dan majalah, namun meluas ke media sosial, blog, dan kanal-kanal media massa. Serta juga kemahiran konsultasi, demi dapat menjawab berbagai macam komentar yang menghampiri. Komentar-komentar yang tidak lagi dapat dibatasi maupun disaring pada era milenial yang identik dengan keterbukaan ini.

Di samping itu yang tidak kalah pentingnya untuk disadari oleh Kader Dakwah adalah meskipun siapapun dapat berdakwah di era milenial ini, Kader Dakwah tetap memiliki diferensiasi-nya sendiri di mana mereka telah memiliki bekal-bekal dasar yang menjadikan dakwah mereka adalah suatu gerakan yang profesional. Dalam artian memiliki rancang bangun yang jelas, serta visi dan misi yang lengkap serta terukur dalam suatu sistem yang rapi. Setiap orang bisa saja menjadi pelaku Dakwah, namun tidak setiap orang dapat menjadi Kader Dakwah.

Proyeksi yang cukup ideal ini bisa juga menjadi hanya sekedar slogan semata. Yaitu ketika seorang yang mengaku dirinya adalah Kader Dakwah namun dia tidak memiliki kecakapan yang profesional dalam dakwahnya itu, dan hanya berdakwah “ala kadarnya” dengan dalih hadits Rasulullah, “sampaikanlah dariku walau satu ayat.”

 

--- Sebuah Catatan Menuju TOT Pemuda Persis ---

 

 

 

 

 

***

 

 Penulis: Cepi Hamdan Rafiq (Sekretaris II PP Pemuda Persis)


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?